Kemenristek: Belum ada obat spesifik untuk Covid-19

Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN. CO. ID –  JAKARTA. Banyak upaya sudah diusahakan berbagai pihak guna mengatasi penyebaran Covid-19 serta penyembuhan pasien-pasien terjangkit. Salah satu upaya jelas yang kini telah menghasilkan lebih dari 61 inovasi terkait pengerjaan Covid-19 adalah dibentuknya konsorium berjalan melakukan berbagai riset terkait Covid-19 dari sisi pencegahan terhadap virus dan pengobatan bagi para anak obat yang sudah berjalan selama 4 bulan terakhir.

Namun, sampai masa ini, menurut Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M. Sc, Ph. D selaku Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kemenristek/BRIN, belum ada satu pun obat istimewa yang bisa diklaim sebagai obat penyembuh Virus SARS-CoV-2, termasuk imunomodulator yang sedang dikembangkan oleh konsorium.

Penjelasan tersebut didukung oleh Dr. Anwar Santoso selaku Anggota Komite Nasional Penilai Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Menurutnya, sampai saat ini belum ada maklumat resmi terkait adanya obat spesifik yang efektif serta aman buat COVID-19.

Baca Pula: Kandidat vaksin Covid-19 China siap pada Desember, harganya sekitar Rp 2 jutaan

“Saya setuju dengan pendapat dari Gufron, bahwa sampai sekarang belum ada satu statement yang menyatakan bahwa ini tersedia obat yang manjur dan tenteram untuk Covid-19. Semuanya dalam sedang dalam fase uji klinik, ” ujar Anwar dari kantor Graha BNPB pada Selasa (18/8) dilansir dari laman Covid19.

Bahkan menurut Anwar, badan kesehatan dunia (WHO) yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional pun tidak menyatakan satu statement yang resmi tersedia obat yang direkomendasikan untuk dipakai atau aman tapi masih di status uji klinik.

Terkait secara banyaknya pernyataan yang tersebar di masyarakat luas mengenai berbagai obat herbal yang dianggap mumpuni di penyembuhan Covid-19, menurut Anwar obat herbal tersebut tetap memerlukan tes klinis sehingga aman untuk dimakan oleh masyarakat dan dapat menganjurkan nilai saintifik serta nilai baik yang terjamin.

Sementara itu, patuh dr. Agus Dwi Santoso, Sp. P(K), FAPSR, FISR selaku Kepala Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, dalam Indonesia sendiri, pengobatan terhadap penderita Covid-19 disesuaikan oleh severity dengan dimulai dari tanpa gejala, gejala ringan, gejala sedang, pneumonia berat, sampai kemudian kritis.

Hal itu dikarenakan masing-masing severity memiliki alternatif obat apa saja yang dikasih berdasarkan konsensus dan kesepakatan dari para profesi.

Ia menjelaskan buat pasien tanpa gejala cukup dengan hanya minum vitamin, namun bertentangan dengan pasien dengan gejala. Adapun pasien yang memiliki gejala rendah, sedang, dan berat sebenarnya daripada perhimpunan itu sudah mengeluarkan panduan.

“Di dalam paduan itu ada pilihan-pilihan, yaitu ada pilihan satu, 2, 3, 4. Di danau bisa diberikan kombinasi dari azitromisin atau levo, hidroksikloroquin dengan kloroquin oseltamivir dan vitamin. Atau pilihan kedua azitromicin levodoxacin diberikan kloroquin hidroksiklorokuin favipiravir ditambah vitamin. Atau, pilihan yang ketiga ya, Azitromisin levo, hidroksiklorokuin atau klorokuin, lopinavir, ritonavir, vitamin. Sedangkan pilihan dengan keempat saat ini tidak ada. Karena kita tidak tersedia remdesivir, ” jelas Agus.

Baca Juga: Nusantara di posisi 5 kasus Covid-19 harian terbanyak di Asia

Lebih lanjut sedang, Agus memaparkan bahwa terdapat tambahan obat untuk kasus-kasus berat serta kritis. Ada pun obat-obat itu di antaranya adalah dexamethasone dan antikoagulan yang diberikan sesuai dengan assessment.

Mayjen TNI Dr. dr. Tugas Ratmono, Sp. S, M. A. R. S selaku Kepala Tengah Kesehatan TNI mengimbau masyarakat untuk tetap menggunakan obat-obat aman yang tentunya sudah direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan.

“Ya, saya taksir ini yang harus jadi daftar, bahwa  masyarakat harus menggunakan seluruh obat-obat yang aman sebenarnya. Tentunya, obat-obat yang beredar, katakanlah itu sudah ada izin edar, dan kalau obat-obat yang belum, tentunya ini tidak dalam kontek rekomendasi, baik itu oleh Kemenkes, maupun dari Badan POM, ” menutup Tugas Ratmono.

INFAK, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai petitih terimakasih atas perhatian Anda, ada voucer gratis senilai donasi dengan bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.

–> Video Pilihan gong17deng –>
DAMPAK VIRUS CORONA

gong17deng –>